Skip to main content

Datang acara launching buku novel ? Not my cup of tea..

Kenapa judulnya begitu ? Memang begitu adanya.. Sejujurnya saya bukan pecinta novel walau bukan orang yang anti novel. Saya membaca beberapa novel tapi bukan orang yang sukaaaaa bangetttt baca novel.  Trus kenapa saya hadir dalam acara soft launching novel A. Fuadi yang berjudul Anak Rantau ? 

Teruslah membaca untuk memahami hidup dan melihat dunia - dokumen pribadi
Saya hadir pada acara tanggal 5 Agustus 2017 di Batavia Market, Kota Tua memang karena beberapa alasan, yang pastinya bikin kesel buat para pecinta novel karena alasannya terkesan kurang josssss. Alasan saya :
  1. Saya kebetulan punya waktu kosong hari itu
  2. Kota Tua adalah tempat bersejarah buat saya dan suami 
  3. Suami mau menemani saya pergi kesana
  4. Judul bukunya menarik buat saya yang "anak rantau" juga 
Iyaaaaa, cuma itu alasan saya mendatangi acara tersebut. Terus apakah saya kecewa dengan acaranya ? TIDAK SAMA SEKALI. Saya baru sadar bahwa saya mendatangi sebuah acara yang luar biasa setelah suami saya bilang bahwa penulisnya ini adalah penulis buku Negeri 5 Menara, lulusan pondok pesantren Gontor dan lulusan S1 UNPAD. Suami saya emang orangnya gaul, luas informasinya dan sangat suka membaca berbagai genre buku (gak kayak saya, hahaha...). Saya tidak pernah membaca Negeri 5 Menara yang trilogi itu tapi saya tahu persis bagaimana terkenalnya novel itu. Apa urusannya pondok pesantren Gontor buat saya ? Sesederhana bahwa saya pernah berkunjung ke pesantren Gontor dengan mengenakan busana muslim, lengkap dengan hijabnya (note:saya seorang non muslim), sehingga saya paling tidak mengerti sedikit (walau sedikit sekali) tentang hidup di pesantren. Dan apakah tidak salah cuma menyebut lulusan UNPAD sementara beliau nyata-nyata adalah lulusan S2 Amerika dan London dengan gelar panjang. Gaklahhhhh, karena UNPAD adalah tempat saya menimba ilmu juga.... paling tidak, ada samanya, uda A Fuadi sama saya. Hahaha....

Cuma itu alasan saya tidak menyesal ? Ya gak juga, saya juga "hepi" setelah membaca bukunya. Isinya yang ringan, meluncur dengan bahasa sederhana tetapi sangat deskritif tentang tempat terjadinya peristiwa sehingga mudah di bayangkan dan rinci dalam penuturannya - menurut saya mencerminkan bahwa penulisnya sungguh cerdas dalam arti kata sebenarnya. Pengalamannya melanglang buana membuat uda yang satu ini mampu melihat indahnya kampung yang kadang tak di hiraukan oleh orang-orang yang hidup terkungkung hanya di satu daerah saja. Saya yakin sekali tentang hal ini karena hampir seluruh teman yang saya kenal, yang pernah hidup di luar negeri, selalu mengagumi tanah air, lebih daripada orang yang tinggal disini. Kalaupun saya mengenal satu dua orang yang tidak demikian, menurut saya lebih pada luka-luka batin yang mereka ingin tinggalkan di tanah air.

A. Fuadi, me and my husband - dokumen pribadi

Cerita tentang luka

Cerita dalam novel ini adalah tentang orang-orang yang menjalani hidup dengan luka-luka batin akibat berbagai hal. Dari mulai tokoh sentral bernama Donwori Behepi, seorang anak yang terluka karena merasa di buang ke kampung halaman ayahnya akibat raportnya kosong saat kelas 2 SMP. Ayahnya sendiri, Martiaz, adalah korban luka yang merasa diusir akibat menikahi wanita satu suku dan merasa gagal menjadi orangtua tunggal. Sang kakek, Datok Marajo Tinggi yang juga seorang yang terluka karena kehilangan anak pertamanya, Yanuar dan mengakibatkan Martiaz merantau ke Jakarta akibat kekerasan hatinya sendiri. Saudara sepupu sang kakek, Pandeka Luko terluka karena dianggap penghianat negara dan dianggap gila. 

Novel 357 halaman ini sangat layak menjadi buku koleksi karena sarat akan pengetahuan dan pelajaran hidup. Jelas tampak riset mendalam dari penulisnya, bahkan untuk sekedar menggambarkan jalur perdagangan narkoba yang merupakan salah satu latar belakang cerita untuk mendapatkan kemerdekaan jiwa dan pikiran. Novel ini juga sangat relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini yang sarat dengan kondisi saling menghujat dan memberikan label label negatif kepada pihak-pihak yang tidak sejalan. Pendidikan kepada anak-anak di tanah air kadang juga lebih menitikberatkan pada penilaian angka ulangan dan kurang memperhatikan budi pekerti yang sesuai dengan ajaran agama masing-masing.


Mampukah tokoh-tokoh dalam novel ini melalui hidup dengan berkalang luka ? Puisi yang diberikan kepada Hepi ini menjawabnya :

merdekakan jiwa
merdekakan pikiran
dari penjajahan pribadi
yang kita buat sendiri-sendiri
dari amarah dan dendam
maafkan, maafkan, maafkan
lalu mungkin lupakan

Maafkan dan lupakan

Dua kata sakti ini bukan pertama kali saya dengar dan baca dari novel ini. Saya telah mendengarnya sembilan belas tahun lalu dari seorang senator Amerika yang kebetulan saya datangi seminarnya di Jakarta. Saya tahu pasti dua kata ini sangat diperlukan oleh semua orang dan jelas telah sangat membantu saya menjalani hidup sampai usia saya yang nyaris setengah abad ini. Sangat tidak mudah di lakukan tetapi wajib hukumnya menurut saya jika kita menginginkan kedamaian pikiran dalam hidup dan menjalani kehidupan sejalan ajaran Nya. Novel ini memberikan penguatan lagi pada keyakinan atas saktinya dua kata ini buat saya dan semoga dapat memberikan pencerahan pada para pembaca lainnya.

Yukkksss di beli bukunya dengan harga Rp. 90.000,- secara online dan akan segera tersedia di toko buku pada pertengahan bulan Agustus 2017.

Comments

  1. Berkalang luka?kudu move on ya ka

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya dunkkkk.... maafkan dan lupakan sayang...

      Delete
  2. Iya setuju, Mbak. Memaafkan dan Melupakan bukan hal yang mudah. Huhu butuh proses dan usaha banget ya. Saya suka gaya bercerita Bang Fuad di novel ini.

    ReplyDelete
  3. Kata-kata sakti "Maafkan Lupakan"
    Sederhana tapi beraaaaaat
    Butuh perenungan dan pergulatan batin yang panjang

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Menghargai yang terlambat ? No way

Dua bulan ini saya menghadiri banyak acara bagus-bagus yang di selenggarakan oleh beberapa perusahaan besar. Senang rasanya karena banyak yang saya pelajari dalam berbagai acara tersebut. Dari berbagai acara yang saya hadiri, ada yang di kelola dengan baik tetapi secara rata-rata saya kecewa dalam satu point penting, yaitu mengenai jadwal di mulainya acara.
Saya memang orang yang memiliki kejelekan "terlalu tepat waktu" sehingga saya selalu merasa terganggu dengan waktu yang tidak jelas dan tidak sesuai jadwalnya. Buat saya awal yang baik adalah kunci kesuksesan dan untuk sebuah acara, dan awal yang baik adalah mulainya acara tepat waktu. Tentunya selain keramahan panitia, menariknya acara itu sendiri, terpenuhinya kepentingan saya di acara tersebut, dll.
Mengamati beberapa acara dalam dua bulan ini dan mengingat banyaknya acara yang saya hadiri di sepanjang kehidupan saya, jujur saya merasa ada yang salah dengan urusan waktu ini. Untuk kesekian kali, saya merasa ada yang tida…

Ke Bali tanpa kemana-mana - sebuah cerita kehidupan

Wah asyik ya ke Bali... Kemana saja, ke pantai apa, ke pura apa, lihat penyu gak, surfing, zoo ? Makan  di nasi ibu "X" gak, bebek "Y" gak, sate "Z" gak ? Beliin gw oleh-oleh dunk, pie susu merek "A", pia "B", lapis legit "C", kain2 Bali, dll yaaa... Jawaban yang paling keren yang saya katakan adalah GW GAK KEMANA MANA..... Trus, pada sewot dunkkkkk, lhaaa loe ngapain ke Bali ?  ------------------------------------------

Iya saya ke Bali 5 hari 4 malam tapi hampir tidak ke daerah tujuan wisata sama sekali, sampai akhirnya sore sebelum kami pulang sempat lihat sunset di Kuta. udah cuma itu doank. Saya juga tidak makan ke resto terkenal atau tempat makan yang keren kekinian atau yang biasa di sambangi saat ke Bali. Saya cuma pindah tempat tidur doank..... Iyaaaa bener, saya cuma tinggal di hotel, ngobrol, tertawa sampai sakit perut, bertengkar dan berbaikan lalu tertawa lagi begitu terus sampai pulang. Kami juga sempat mampir ke …

Sehat sebagai calon orangtua diantara mitos dan hoax di sosial media

Rumah tangga itu rumit, kalau sederhana itu rumah makan. Hahahahaa.... Kalimat yang terdengar lucu tetapi sarat makna. 
Memulai rumah tangga biasanya dimulai dengan menggelar pesta pernikahan, yang tentunya membutuhkan persiapan mental dan material di dalamnya. Tetapi di luar persiapan itu, ada satu poin penting yang biasa terlewatkan oleh para pasangan yang akan menikah, yaitu tes kesehatan pranikah. Poin ini menjadi penting dan agak rumit karena secara adat di Indonesia, pernikahan adalah bergabungnya dua keluarga besar yang menyimpan harapan menambah anggota keluarga. Kehamilan adalah salah satu hal yang selalu membuat kegembiraan lebih, dalam keluarga besar sekaligus dimulainya berderet mitos pantangan dan fakta yang akan di beberkan dalam pertemuan dengan anggota keluarga kedua belah pihak.
Tujuhbelas tahun lalu, saat saya mengandung putra saya satu-satunya, internet belum digunakan untuk mendapatkan informasi seperti saat ini. Belajar menjadi ibu di peroleh dari majalah dan tunt…