Skip to main content

Hoax Di Media Sosial? Berpikir Kritislah

Setiap malam, ibu saya selalu mengeluarkan nasi sisa, yang katanya berbahaya jika terus ada di dalam rice cooker. Iyaaa saya tahu itu hoax, yang diterima ibu saya melalui Aplikasi Whapsapp dari group pertemanan emak-emak lansia. 

Saya membiarkannya setelah ibu saya selalu ngotot bahwa itu benar, walaupun saya sudah memberikan informasi sebaliknya. Daripada berantem untuk urusan begitu yaaa… Paling-paling saya minta tolong saudara atau kenalan ibu saya, untuk meneruskan berita yang sebenarnya lewat whatsapp juga. Hehehe…

Sebenarnya tidak masalah buat saya jika dilakukan dengan benar, dalam arti kabel listriknya di cabut dari stop kontak. Problemnya adalah : ibu saya sudah sering lupa dan sering tidak mencabut kabelnya dan membiarkan rice cooker terhubung ke listrik tanpa ada isinya. Jadi, tahu dunk ya sekarang, mengapa berita hoax itu bisa berakibat fatal dan membahayakan.

Buat saya, orang menyebar hoax ya terserah, tetapi harus sadar bahwa ada akibat yang terjadi jika hoax itu dipercayai. Kesellllll sumpah... Kita memang tidak bisa membatasi orang menyebarkan berita bohong. Terlalu banyak hoax bertebaran siy, sampai akhirnya bingung mana yang harus dipercayai.

Tapi setidaknya kita tidak ikut menyebarkannya dan memberitahu kepada teman/sanak saudara, berita yang benar. Jadi.... bagaimana menanggapinya, apa saja langkah-langkahnya? Ya mulai pinteran dikitlah, sebaiknya kita berpikir kritis pada setiap informasi yang kita terima.

Berpikir Kritis

Berpikir artinya menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu. Berpikir kritis bukan berpikir untuk mencari-cari kelemahan atau kesalahan sesuatu/seseorang. Berpikir kritis adalah berpikir sistematis, berdasar logika dan obyektivitas menilai sesuatu untuk mengambil keputusan atau bertindak sehari-hari. 

Berpikir-Kritis-Melawan-Hoax
Berpikir Kritis

Berpikir kritis membutuhkan setidaknnya 4 buah keahlian, yaitu :
  1. Rasa ingin tahu
    • Rasa penasaran yang berkonotasi netral untuk belajar lebih tentang suatu hal
  2. Kreativitas
    • Kreatif menggabungkan ide-ide baru, digabungkan dan menciptakan konsep dan pemikiran baru
  3. Sikap skeptis yang positif
    • Memiliki keraguan yang baik tentang informasi baru, tidak mudah percaya
  4. Kerendahan hati
    • Sikap menyadari keterbatasan kemampuan supaya tidak sombong akan pengetahuan yang dimiliki
Apa saja hambatan kita untuk dapat berpikir kritis, coba dicermati infografis dibawah ini:

Berpikir-Kritis-Tangkal-Hoax
Hambatan Berpikir Kritis

Menghadapi Hoax

Dalam menghadapi hoax melalui Whatsapp seperti contoh diatas, apa saja yang perlu dilakukan? Tentunya kita harus berpikir kritis dan tidak serta merta menyebarkannya. 

Cara identifikasi pesan dan langkah-langkah yang bisa di lakukan adalah :
  1. Tidak mudah percaya akan isi pesan :
    • Mencari tahu apakah pesan tersebut adalah pesan yang “diteruskan” atau tulisan dari si pengirim pesan. Jika tidak yakin si pengirim adalah penulisnya, kita perlu menelusuri penulis aslinya.
    • Banyak dari pesan-pesan hoax mengandung beberapa kesalahan ejaan.
    • Cerita yang seperti “to good to be true” dan menjadi viral biasanya memang hoax. Biasanya juga terdapat desakan untuk meneruskan pesan dan kadang disertai kalimat yang menakut-nakuti.
  2. Kreatif mencari fakta
    • Memeriksa foto dan media yang dikirimkan untuk mengetahui apakah itu hasil editan atau bukan.
    • Memastikan sumber pesan adalah sumber yang dapat dipercaya
    • Cari fakta dari sumber lain yang terpercaya sebagai verifikasi atas pesan yang diterima. Misalnya : cek pada situs-situs anti hoax atau media mainstream.
  3. Apabila ditemukan bahwa pesan itu merupakan hoax, jangan teruskan pesan tersebut
    • Beritahu kepada pengirim pesan dengan sopan
    • Sertakan bukti pendukung bahwa hal tersebut adalah hoax
    • Ingatkan juga kepada pengirim pesan agar selalu melakukan penelusuran pesan dengan teliti
    • Infokan sumber-sumber terpercaya untuk melakukan pengecekan

Kebanyakan korban hoax, menurut Ketua Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) adalah para digital immigrant, yaitu orang-orang yang tumbuh ketika informasi dapat diakses melalui media cetak. Mereka tergolong gagap dan tidak adaptif karena menganggap semua berita sudah melalui proses redaksional seperti pada masanya.

Mereka juga aktif menyebarkan dan meneruskan semua berita karena terpaku pada “kecepatan berita”. Tetapi karena memiliki keterbatasan pengetahuan untuk mengkonfirmasi berita, semua berita diteruskan baik yang benar maupun yang bersifat hoax. Sedangkan generasi muda lebih mengerti esensi dari penyebaran berita, yaitu ketepatan berita.

Saat pandemi seperti sekarang, hoax tidaklah berkurang intensitasnya. Orang bekerja dari rumah dan lebih banyak waktu menggunakan kuota data gadgetnya untuk berkelana di media sosial saat ini dan makin banyak hoax bertebaran. So…. Bijaksana dan mulailah berpikir kritis!

Comments

Popular posts from this blog

Menghargai yang terlambat ? No way

Dua bulan ini saya menghadiri banyak acara bagus-bagus yang di selenggarakan oleh beberapa perusahaan besar. Senang rasanya karena banyak yang saya pelajari dalam berbagai acara tersebut. Dari berbagai acara yang saya hadiri, ada yang di kelola dengan baik tetapi secara rata-rata saya kecewa dalam satu point penting, yaitu mengenai jadwal di mulainya acara. Saya memang orang yang memiliki kejelekan "terlalu tepat waktu" sehingga saya selalu merasa terganggu dengan waktu yang tidak jelas dan tidak sesuai jadwalnya. Buat saya awal yang baik adalah kunci kesuksesan dan untuk sebuah acara, dan awal yang baik adalah mulainya acara tepat waktu. Tentunya selain keramahan panitia, menariknya acara itu sendiri, terpenuhinya kepentingan saya di acara tersebut, dll. dokumen pribadi Mengamati beberapa acara dalam dua bulan ini dan mengingat banyaknya acara yang saya hadiri di sepanjang kehidupan saya, jujur saya merasa ada yang salah dengan urusan waktu ini.  Untuk kesekian

Memilih kaca film untuk mobil

Kali ini saya ingin berbagi mengenai seluk beluk kaca film mobil. Buat saya pribadi, kaca film di butuhkan karena sebagai pengendara perempuan, risih rasanya jika terlihat langsung dari luar mobil saat berkendara dan juga agak serem jika terlihat sedang berkendara sendirian melewati jalanan sepi di malam hari. Kejahatan bisa terjadi dimana saja dan tidak memandang jenis kelamin siy, tetapi tetap saja kalau perempuan kayanya lebih dipilih sebagai sasaran empuk, yaaa...   Ternyata banyak juga kegunaan lain dari kaca mobil selain hal tersebut di atas. Saya mendapatkan informasi ini dari acara yang di selenggarakan oleh Mobil 123 sebagai  portal otomotif nomor 1  dan  V Kool Indonesia  bekerjasama dengan Indonesian Social Blogprerneur (ISB) pada hari Rabu, 26 Juli 2017 kemarin di V Kool Flagship, jalan Trembesi, Jakarta Utara. Jadi apa saja ya kegunaannya ?  Menahan sinar matahari masuk langsung ke dalam mobil Tanpa menggunakan kaca film, suhu dalam mobil saat parkir menjadi leb

Tingkatkan Kemampuan Anak Dengan Belajar Di Luar Kelas

Belajar untuk orang-orang jaman old itu duduk manis, tangan dilipat sambil melototin buku di depan mata, gitu deh.... Padahal sebagai orang yang pernah menjadi anak-anak, semestinya kita menydaari bahwa model belajar diluar kelas justru lebih melekat hasilnya. Tidak hanya terbatas untuk anak-anak; sebagai orang dewasa, kita juga lebih rileks berada di luar ruangan di bandingkan harus terkungkung dalam cubical ruang kantor toh? Anak saya adalah salah satu pecinta kegiatan belajar di luar kelas. Itu sebabnya saat dia masih SD, guru-gurunya sangat kerepotan dengan polahnya di kelas. Anak saya tidak bisa duduk manis di kelas dan diam. Pola belajar di sekolahnya saat itu sebagian besar di dalam kelas sehingga mengakibatkan dia agak tersiksa. Setiap saat dia berkeliling kelas, melihat-lihat tugas teman-temannya dan terkesan mengganggu ketertiban.  Banyak teman-temannya yang menganggap anak saya "berbeda dan aneh" sehingga terjadi "bulliying" terhadapnya. Saat dit