Skip to main content

Orangtua Pikun, Bagaimana Cara Menyikapinya?

Suatu malam, saya pulang kantor dan melihat teras rumah gelap karena lampu belum dinyalakan. Saat saya masuk ke rumah, tiba-tiba ibu saya berkata,"Kok udah pagi, masih gelap?" Dalam hati saya membatin, wah orangtua pikun niy. 

Saya tergolong generasi sandwich dimana saya mengurus anak dan orangtua sekaligus, bahkan di bawah satu atap. Ibu saya berusia 79 tahun dan sudah tinggal bersama saya, sejak anak saya lahir, sedangkan ibu mertua saya berusia 71 tahun. 

Ahhhh.. apa bedanya dengan orang lain? Bedanya mungkin, karena saya tinggal dengan suami, anak tunggal saya, ibu kandung dan ibu mertua sekaligus dalam satu rumah. Iyaaaa... kami tinggal bersama satu atap. Kebayang gak serunya hidup kami sekeluarga? Cerita keseruannya nantilah kapan-kapan saya bagikan yaaa..

Gejala-orangtua-pikun
Me, my mom and my son
Suami saya dinas di luar kota dan pulang dalam jangka waktu satu bulan sekali. Jadi sehari-hari, selain bekerja di kantor, saya yang "berdinas" dirumah dan melihat proses bagaimana ibu saya dan ibu mertua mulai menua dan mengalami gejala-gejala orangtua pikun. Tapi dalam artikel ini, saya akan fokus pada cerita ibu kandung saya dan cara keluarga saya menyikapi pikun yang terjadi pada beliau.

Gejala Orangtua Pikun

Saat mengikuti Festval Digital Bulan Alzheimer Sedunia 2020 saya mendapatkan informasi mengenai masalah pikun. Pikun ternyata bukanlah sesuatu yang normal melainkan sebuah penyakit yang sedianya dapat ditangani sejak dini.

Pikun menurut KBBI adalah kelainan tingkah laku (sering lupa dan sebagainya) yang biasa terjadi pada orang yang sudah berusia lanjut; linglung; pelupa. Sedangkan secara medis, pikun adalah menurunnya kemampuan untuk berpikir pada otak seseorang sehingga mempengaruhi daya ingat, kecepatan berpikit dan berperilaku, dan disebut Demensia.

Resiko mengalami pikun bertambah sejalan bertambahnya usia dan biasanya disebut Demensia Alzheimer. Gejala pikun sendiri adalah sebagai berikut :

  1. Gangguan daya ingat atau sering lupa
  2. Disorientasi, bingung akan waktu (hari, tanggal), tidak tahu jalan pulang
  3. Menarik diri dari pergaulan
  4. Perubahan perilaku dan kepribadian
  5. Sulit melakukan pekerjaan yang familiar seperti sulit mengerjakan pekerjaan sehari-hari, cara mengemudi, mengatur keuangan
  6. Kesulitan memahami visuospatial, sulit mengukur jarak, tidak dapat membedakan warna
  7. Sulit fokus
  8. Gangguan berkomunikasi, kesulitan berbicara
  9. Sulit membuat keputusan
  10. Menaruh barang tidak pada tempatnya
Ibu saya sudah menampakkan beberapa gejala diatas dan berjalan cepat dalam tahun-tahun terakhir ini. Seingat saya, beliau mulai mengalami gangguan daya ingat dan menaruh barang tidak pada tempatnya, sekitar 4 tahun yang lalu. Saat itu beliau mulai merasa sering kehilangan uang dan membuat kehebohan dengan menuduh asisten rumah tangga kami.

Saya mulai menyadari bahwa gejala orangtua pikun itu mulai ada, karena selalu dapat menemukan uang yang dinyatakan hilang di kamar beliau sendiri. Letak menyimpannya kadang membuat saya tidak habis pikir. Hahaha... beneran saya sampai geleng-geleng kepala saat menemukannya. Dan tahun ini, ibu saya mulai menunjukkan gejala diorientasi waktu.

By the way busway, sekarang ada aplikasi di gadget kalian untuk deteksi dini orangtua pikun ini looo... Coba deh cek di google play : EMS - e Memory Screening. Disitu juga terdapat direktori rujukan ahli terpercaya dan berbagai informasi dan edukasi.

Bagaimana Menyikapi Orangtua Pikun?

Saya bersyukur memiliki suami yang sungguh peduli akan kesehatan dan keselamatan lansia. Sebagai pengamat lansia, beliau sangat mengerti cara menyikapi gejala pikun ini. Saya baru mengerti istilah ilmiahnya, yaitu melakukan terapi stimulasi kognitif.

Terapi Stimulasi Kognitif adalah metode psikoterapi untuk memperbaiki hubungan penderita dementia dengan orang di sekitarnya. Jadi yang keluarga lakukan adalah :

  1. Anak saya bertugas mengajak ibu saya berolahraga 
    • Pada masa pandemi ini, kebetulan anak saya kuliah onlline dari rumah sehingga kami mengatur jadwal untuk ibu saya bisa jalan pagi/sore, bersama cucunya keliling komplek perumahan. Tentu saja dengan menerapkan protokol kesehatan, yaitu menggunakan masker dan menjaga jarak apabila ada orang lain di jalan. 
  2. Berlangganan koran dan tabloid
    • Semata-mata agar setiap pagi, ibu saya bisa membaca berita-berita terbaru sehingga tetap update dengan kondisi saat ini. Ini membantu sekali, karena ibu saya pernah pergi keluar rumah sendirian ke minimarket karena mau membeli sambal botolan, tanpa masker. Astaga banget yaaa... jaman Covid-19, dengan alasan lupa kalau sedang ada pandemi.
  3. Saya ijinkan ibu saya tetap memasak dan menyiram tanaman di halaman
    • Ibu saya hobby memasak dan saya tetap mengijinkan beliau sesekali memasak supaya tetap ada kegiatan di rumah dan merasa "berguna".
    • Tentunya dengan banyak sekali protokol keselamatan, hahaha... Saya tidak lagi menggunakan kompor gas di rumah karena khawatir ibu saya lupa mematikan api kompor.
    • Memasang alarm asap di dapur adalah hal utama karena kadang ibu saya juga lupa mengangkat wajan bekas menggoreng tanpa mencabut aliran listrik :)
    • Setiap makan, anak saya memiliki ritual khusus yaitu memeriksa dapur untuk memastikan kabel aliran listrik kompor sudah di cabut.

Selain beraktivitas, tentu saja kami sangat memperhatikan kebutuhan asupan gizi ibu saya. Selain makanan yang bervariasi dan suplemen tambahan, saya mulai membuat kefir dan sauerkraut untuk konsumsi keluarga. Resep bikinnya nanti jugalah kapan-kapan saya share (banyak kali janji kau, bah!)

Ibu saya sudah mengkonsumsi susu sejak muda dan sejak usia 60 tahun, kami melengkapinya dengan protein powder, minyak ikan, glucosamine, calsium, vitamin C dan vitamin E. Pokoknya semua yang terbaik yang kami mampu dan dapat lakukan untuk kesehatan orangtua.

Mengobati Orangtua Pikun

Yang kami lakukan ternyata sejalan dengan presentasi dari dr. S.B. Rianawati, SpS (K) Pokdi Neurobehaviour Cabang Malang pada Festval Digital Bulan Alzheimer Sedunia 2020 dengan tajuk #obatipikun. 

Beliau menyatakan bahwa pengobatan pikun itu tujuannya adalah mengurangi gejala, memperlambat perkembangan penyakit dan membuat penderita dapat hidup semandiri mungkin.

Beberapa penanganan orangtua pikun meliputi :

  1. Mengatasi penyebab pikun
  2. Memberikan Obat-obatan
  3. Terapi Stimulasi Kognitif
  4. Memberikan Perawatan Palipatif  
Infografis Penanganan Pikun


Tetapi diatas segalanya, yang penting buat para orangtua pikun ini adalah limpahan kasih danri keluarga. Ekstra sabar adalah hal utama yang saya sendiri masih belajar. Bukan hanya kepada orangtua pikun tetapi juga pada saudara/kerabat/kenalan yang kadang tidak mengerti dan cuma bisa julid aja, hahahaaaa.... #curhat akibat mulut-mulut yang setajam silet.

Semoga kisah saya ini bisa menginpirasi untuk orang-orang yang saat ini sedang merawat orangtua yang mulai memiliki gejala pikun yaaa... Semangattttt...


Comments

Post a comment