Skip to main content

"New Normal" Terkait Keuangan Keluarga

"Ini lebih ngeri dari corona, siap-siap. Apakah kita ada hutang? Kalau ada, jangan nambah cicilan hutang baru, selesaikan saja cicilan hutang lama. Saya rasa ini akan berlangsung sangat lama" 
Photo by Markus Spiske on Unsplash
Kalimat itu muncul pada pesan whatsapp saya pada awal Maret 2020, saat harga minyak dunia turun 20.9% menjadi tinggal USD 32,65 perbarel. Saat itu pasien pertama virus Covid-19 baru saja diumumkan di Indonesia. Itu adalah chatt suami saya dari seberang lautan dan saya menjawab dengan jelas dan segera, bahwa kami tidak memiliki hutang keuangan. Hutang kami hanyalah berupa janji-janji yang tidak tertepati #halah

Setelah hari itu, saya mulai lebih rinci dalam perencanaan keuangan kami dan mulai melakukan beberapa hal untuk menghadapi kondisi terburuk dalam ekonomi keluarga. Saya bersyukur sudah melakukan itu jauh hari sebelum situasi semakin tidak menentu. Kami bersiap untuk perencanaan jangka pendek, yaitu satu tahun. Jangka waktu itu adalah batas yang menurut kami cukup untuk pulih dari masalah keuangan.

Nyatanya benar, hanya dalam waktu kurang dari 1 bulan, kebijakan perusahaan tempat saya bekerja mulai berubah drastis. Perusahaan menutup sebagian besar cabang dan mulai merumahkan sebagian besar karyawan. Perusahaan tempat suami saya bekerja, juga memberlakukan kebijakan baru sehubungan dengan pandemi Covid-19 ini. Dengan banyaknya orang-orang di sekitar kami yang kehilangan penghasilan, kami sungguh bersyukur bahwa kami berdua masih tetap dapat bekerja. 

Lalu, apa yang saya lakukan dari sejak masa pandemi sampai menjelang kondisi new normal? Ini hanya sharing saja dan tidak setiap orang akan cocok dengan kisah kami, pastinya. New normal yang terkait masalah keuangan, sudah saya lakukan sejak awal Maret sesaat menerima gaji bulanan kami berdua. Selain pengeluran untuk pangan dan transportasi yang sudah kami anggarkan, apa lagi siy yang kami perhatikan?

  1. Mencatat secara rinci kewajiban pengeluaran rutin dan mencari cara penghematannya. 
    • Contoh : iuran perumahan, listrik, air, telpon rumah, pulsa HP, WiFi, BPJS, asuransi, uang bulanan untuk orangtua, uang kontrakan anak kuliah, uang arisan, dan lain-lain.
    • Biasanya saya membiarkan anak saya menyalakan AC sepanjang hari jika dia sedang pulang ke rumah. Saat ini BIG NO. Saya memintanya untuk membuka jendela kamar lebar-lebar dan menyalakan AC, hanya jika udara sangat panas dan saat tidur malam.
  2. Menyisihkan dana untuk membayar kewajiban keuangan yang akan jatuh tempo dalam satu tahun ke depan, langsung di awal, yaitu masa sekarang ini.
    • Contoh : perpanjangan surat kendaran bermotor, uang kuliah anak, dan lain-lain.
  3. Menyimpan uang dalam bentuk uang elektronik dan tunai
    • Saya menarik sebagian besar dana dari total penghasilan kami sebulan dan membaginya dalam bentuk tunai, dan uang elektronik. 
    • Mengapa harus tetap menyimpan uang tunai? 
    • Saat itu, Covid-19 belum sampai ke daerah kami tinggal. Kami sudah memperkirakan akan ada rasa takut tertular saat mengambil uang tunai ke ATM atau ke bank. Sedangkan saya sadar, tidak semua hal dapat dibayar dengan uang elektronik. Jadi saya putuskan mengambil uang saat itu, sebelum si musuh tanpa bayangan itu menyerang. Dan keputusan itu adalah keputusan terbaik yang saya ambil. 
      Photo by Stephen Phillips - Hostreviews.co.uk on Unsplash
  4. Sama sekali tidak menggunakan kartu kredit untuk belanja
    • Mengapa? Karena kami tidak tahu apakah penghasilan kami akan terus ada dalam bulan-bulan kedepan. Dan kami sepakat tidak mau memiliki hutang sama sekali walaupun selama ini saya juga selalu membayar full payment.
  5. Saya belajar memasak untuk mengurangi biaya makanan
    • Ini bagian paling seru sebenarnya, kenapa? Karena semua sahabat dekat saya, tahu bahwa saya tidak dapat memasak. Saat pandemi melanda, saya memulai kembali belajar memasak dan mencoba banyak menu baru yang menantang. Dan ajaibnya, saya merasa senang memasak, hahaha....
  6. Prioritas belanja untuk kesehatan
    • Misalnya : beli masker, hand sanitizer, disinfectant, vitamin dan lain-lain yang  penting, urgent dan dibutuhkan saat ini
      Photo by Kayla Maurais on Unsplash
  7. Mengurangi pengeluaran yang tidak perlu
  8. Memindahkan alokasi dana yang tidak digunakan, misalnya dana travelling menjadi dana investasi
Ya kira-kira begitulah sebagian besar pengaturan keuangan saat ini dalam keluarga saya. Terus apakah pengeluaran kami jadi berkurang dari biasanya? Ternyata TIDAK, pengeluaran kami tetap sama. Bedanya, kami memiliki dana untuk berbagi dengan banyak orang dari kelebihan akibat penghematan di banyak pos pengeluaran. 
Bahagia itu adalah berbagi disaat kita tidak berlebihan

Comments

  1. iya mbak lebih berhati hati dalam melakukan pengeluaran
    yang dulu biasanya mudah membeli ini itu jadi dibatasi
    masalah hutang untung juga enggak ada
    semoga cepat usai ini corona ya

    ReplyDelete
  2. Simply contact us when you need anything related to writing. We will be able to create extraordinary content for you! I am sure.

    ReplyDelete

Post a comment

Popular posts from this blog

Menghargai yang terlambat ? No way

Dua bulan ini saya menghadiri banyak acara bagus-bagus yang di selenggarakan oleh beberapa perusahaan besar. Senang rasanya karena banyak yang saya pelajari dalam berbagai acara tersebut. Dari berbagai acara yang saya hadiri, ada yang di kelola dengan baik tetapi secara rata-rata saya kecewa dalam satu point penting, yaitu mengenai jadwal di mulainya acara. Saya memang orang yang memiliki kejelekan "terlalu tepat waktu" sehingga saya selalu merasa terganggu dengan waktu yang tidak jelas dan tidak sesuai jadwalnya. Buat saya awal yang baik adalah kunci kesuksesan dan untuk sebuah acara, dan awal yang baik adalah mulainya acara tepat waktu. Tentunya selain keramahan panitia, menariknya acara itu sendiri, terpenuhinya kepentingan saya di acara tersebut, dll. dokumen pribadi Mengamati beberapa acara dalam dua bulan ini dan mengingat banyaknya acara yang saya hadiri di sepanjang kehidupan saya, jujur saya merasa ada yang salah dengan urusan waktu ini.  Untuk kesekian

Memilih kaca film untuk mobil

Kali ini saya ingin berbagi mengenai seluk beluk kaca film mobil. Buat saya pribadi, kaca film di butuhkan karena sebagai pengendara perempuan, risih rasanya jika terlihat langsung dari luar mobil saat berkendara dan juga agak serem jika terlihat sedang berkendara sendirian melewati jalanan sepi di malam hari. Kejahatan bisa terjadi dimana saja dan tidak memandang jenis kelamin siy, tetapi tetap saja kalau perempuan kayanya lebih dipilih sebagai sasaran empuk, yaaa...   Ternyata banyak juga kegunaan lain dari kaca mobil selain hal tersebut di atas. Saya mendapatkan informasi ini dari acara yang di selenggarakan oleh Mobil 123 sebagai  portal otomotif nomor 1  dan  V Kool Indonesia  bekerjasama dengan Indonesian Social Blogprerneur (ISB) pada hari Rabu, 26 Juli 2017 kemarin di V Kool Flagship, jalan Trembesi, Jakarta Utara. Jadi apa saja ya kegunaannya ?  Menahan sinar matahari masuk langsung ke dalam mobil Tanpa menggunakan kaca film, suhu dalam mobil saat parkir menjadi leb

Tingkatkan Kemampuan Anak Dengan Belajar Di Luar Kelas

Belajar untuk orang-orang jaman old itu duduk manis, tangan dilipat sambil melototin buku di depan mata, gitu deh.... Padahal sebagai orang yang pernah menjadi anak-anak, semestinya kita menydaari bahwa model belajar diluar kelas justru lebih melekat hasilnya. Tidak hanya terbatas untuk anak-anak; sebagai orang dewasa, kita juga lebih rileks berada di luar ruangan di bandingkan harus terkungkung dalam cubical ruang kantor toh? Anak saya adalah salah satu pecinta kegiatan belajar di luar kelas. Itu sebabnya saat dia masih SD, guru-gurunya sangat kerepotan dengan polahnya di kelas. Anak saya tidak bisa duduk manis di kelas dan diam. Pola belajar di sekolahnya saat itu sebagian besar di dalam kelas sehingga mengakibatkan dia agak tersiksa. Setiap saat dia berkeliling kelas, melihat-lihat tugas teman-temannya dan terkesan mengganggu ketertiban.  Banyak teman-temannya yang menganggap anak saya "berbeda dan aneh" sehingga terjadi "bulliying" terhadapnya. Saat dit