Langsung ke konten utama

Apakah Kritik Perlu Dibarengi Solusi?

Kritik ya kritik aja, ngapain dikasih solusi? Masa rakyat yang memberi solusi, padahal pejabat kan digaji.

Kritik
Kritik

Postingan IG seorang teman ini, menarik perhatian saya seketika. Apa iya ya benar begitu seharusnya? Menurut kalian bagaimana? 

Saking penasaran, saya sampai mengajukan pertanyaan di status Whatsapp (WA) untuk meminta tanggapan teman-teman saya.

Berbagai tanggapan tentang hal ini, saya dapatkan dari reply status Whatsapp (WA) yang sengaja saya pasang. Saya tidak tahu apakah teman-teman saya ini, setipe atau bagaimana. Jawaban mereka rata-rata senada seirama gitu, hehehe...

DEFINISI KRITIK

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kritik adalah kecaman atau tanggapan atau kupasan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapart dan sebagainya

Menurut Wikipedia. kritik adalah proses analisis dan evaluasi terhadap sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi atau membantu memperbaiki pekerjaan.

Secara etimologis, kritik berasal dari bahasa Yunani “Clitikos”.  yang berarti ciri pembeda. Kata itu berasal dari bahasa Yunani kuno “Krit├ęs”,yang menunjuk pada orang yang membuat pendapat atau analisis yang tepat, penilaian nilai, pengamatan atau interpretasi.

KRITIK ATAU KOMPLAIN?

Jika melihat kalimat postingan dibagian awal artikel, terlihat penulis status IG tersebut mengkhususkan pada kritik terhadap pejabat.

Dari reply teman-teman saya, kebanyakan berpendapat kritik terhadap pejabat itu tidak ada hubungan sama sekali dengan gaji sang pejabat. Kritik dibuat demi kebaikan dan kritik terhadap pejabat diharapkan dapat memberikan dampak lebih luas karena mereka bekerja untuk kepentingan masyarakat.

Sampaikan kritik dengan baik dan sopan. Sampaikan bahwa maksud kita bukanlah untuk menyerang melainkan karena kita melihat ada cara, sikap atau alternatif yang mungkin lebih baik.

Menyampaikan kritik harus juga mengerti masalah yang terjadi sehingga tidak membabi buta. Juga menyadari bahwa pengkritik mungkin tidak  100% tahu situasi dan kondisi saat seseorang mengambil keputusan atau melakukan sesuatu.

Kritik dan Saran
Kritik dengan saran

Kritik bukanlah harga mati. Jadi, yang memberikan kritik harus legowo jika orang lain menolak untuk menerima kritikan tersebut. 

Dari sekian banyak reply yang masuk, semuanya menyatakan bahwa, kritik tanpa saran, akan berlalu begitu saja. Jika kita memberikan kritik sekaligus saran yang baik, orang akan cenderung ingat dan paling tidak berpikir untuk mencoba saran tersebut.

Pendapat teman-teman saya, jika kritik tanpa disertai saran, itu namanya komplain alias keluhan. Dan mengharap solusi diberikan oleh orang yang dikomplain.

JADI DIKASIH SOLUSI ATAU TIDAK?

Dengan tambahan saran (baca : bukan solusi), sebuah kritik akan menjadi perhatian. Ada kemungkinan orang yang dikritik dapat melakukan modifikasi atas saran, sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi.

Begitu siy menurut teman-teman saya. Dan saya juga meyakini hal yang sama. Jadi menurut saya, kritik kepada siapapun memerlukan beberapa hal ini :

  • Pengkritik paham permasalahannya
  • Dilakukan dengan baik dan sopan 
  • Kritik tidak wajib diteima
  • Kritik dilakukan dengan tambahan saran

Siapkah anda memberikan kritik? Atau hanya mau komplain saja? Apapun pilihan anda, just be happy!







Komentar

  1. Kritik kadang "tersampaikan dengan baik" jika di satu wadah tertentu dan acara "bincang-binang"nya terencana - soalnya ga ada satu pun yang mau menerima kritik, kecuali mereka minta :(

    pernah soalnya dulu di satu diskusi mendadak "diserang"

    BalasHapus
    Balasan
    1. turut sedih, mak... semoga ada saling menghargai dan gak kejadian lagi yaaa

      Hapus
  2. Setuju aku kritik harus ada solusi biarnggak muter mutet aja disitu deh

    BalasHapus
  3. betul banget emang saran itu penting. Walaupun ngga berujung jadi solusi "beneran", tapi saran mmbuat "solutif" artinya bisa diselesaikan, walau saran belum tentu diterima :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. He eh gitu, paling gak ada gambaran penyelesaian

      Hapus
  4. Kalau yg kritik (misal) konsumen, yang ga perlu solusi. Justru jadi input buat stake holder, untuk memperbaiki diri.

    BalasHapus
  5. Yang saya lihat saat ini, banyak yang belum bisa membedakan kritik dengan hujatan. Bahkan seringkali seperti ingin menjatuhkan.

    Kritik menurut saya gak perlu harus dibarengi dengan solusi. Tetapi, kita memang harus belajar tentang menyampaikan kritik.

    BalasHapus
  6. Setuju banget kak, mau mengkritik seseorang boleh-boleh saja asalkan disampaikan dengan sopan dan lebih bagus disertai saran. Semoga makin banyak yang bijak soal gimana menyampaikan kritikan yang baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama sama belajar yang kasih kritik ama yang di kritik yaaa

      Hapus
  7. PR banget biasanya orang cuma bisa mengkritik tanpa memberi solusi. Padahal kan orang yang di kritik berharap mendapatkan solusi juga yah mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Paling gak supaya lebih ngerti maunya si pemberi kritik kali ya

      Hapus
  8. Bagi saya, Kritik tanpa dibarengi solusi atau saran itu seperti menghina, merendahkan, atau bisa juga melecehkan. Untuk itulah Kritik harus disertai saran atau solusi yang membangun. Tentu saja tujuannya untuk berkembang dan memperbaiki.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghargai yang terlambat ? No way

Dua bulan ini saya menghadiri banyak acara bagus-bagus yang di selenggarakan oleh beberapa perusahaan besar. Senang rasanya karena banyak yang saya pelajari dalam berbagai acara tersebut. Dari berbagai acara yang saya hadiri, ada yang di kelola dengan baik tetapi secara rata-rata saya kecewa dalam satu point penting, yaitu mengenai jadwal di mulainya acara. Saya memang orang yang memiliki kejelekan "terlalu tepat waktu" sehingga saya selalu merasa terganggu dengan waktu yang tidak jelas dan tidak sesuai jadwalnya. Buat saya awal yang baik adalah kunci kesuksesan dan untuk sebuah acara, dan awal yang baik adalah mulainya acara tepat waktu. Tentunya selain keramahan panitia, menariknya acara itu sendiri, terpenuhinya kepentingan saya di acara tersebut, dll. dokumen pribadi Mengamati beberapa acara dalam dua bulan ini dan mengingat banyaknya acara yang saya hadiri di sepanjang kehidupan saya, jujur saya merasa ada yang salah dengan urusan waktu ini.  Untuk kesekian

Memilih kaca film untuk mobil

Kali ini saya ingin berbagi mengenai seluk beluk kaca film mobil. Buat saya pribadi, kaca film di butuhkan karena sebagai pengendara perempuan, risih rasanya jika terlihat langsung dari luar mobil saat berkendara dan juga agak serem jika terlihat sedang berkendara sendirian melewati jalanan sepi di malam hari. Kejahatan bisa terjadi dimana saja dan tidak memandang jenis kelamin siy, tetapi tetap saja kalau perempuan kayanya lebih dipilih sebagai sasaran empuk, yaaa...   Ternyata banyak juga kegunaan lain dari kaca mobil selain hal tersebut di atas. Saya mendapatkan informasi ini dari acara yang di selenggarakan oleh Mobil 123 sebagai  portal otomotif nomor 1  dan  V Kool Indonesia  bekerjasama dengan Indonesian Social Blogprerneur (ISB) pada hari Rabu, 26 Juli 2017 kemarin di V Kool Flagship, jalan Trembesi, Jakarta Utara. Jadi apa saja ya kegunaannya ?  Menahan sinar matahari masuk langsung ke dalam mobil Tanpa menggunakan kaca film, suhu dalam mobil saat parkir menjadi leb

Tingkatkan Kemampuan Anak Dengan Belajar Di Luar Kelas

Belajar untuk orang-orang jaman old itu duduk manis, tangan dilipat sambil melototin buku di depan mata, gitu deh.... Padahal sebagai orang yang pernah menjadi anak-anak, semestinya kita menydaari bahwa model belajar diluar kelas justru lebih melekat hasilnya. Tidak hanya terbatas untuk anak-anak; sebagai orang dewasa, kita juga lebih rileks berada di luar ruangan di bandingkan harus terkungkung dalam cubical ruang kantor toh? Anak saya adalah salah satu pecinta kegiatan belajar di luar kelas. Itu sebabnya saat dia masih SD, guru-gurunya sangat kerepotan dengan polahnya di kelas. Anak saya tidak bisa duduk manis di kelas dan diam. Pola belajar di sekolahnya saat itu sebagian besar di dalam kelas sehingga mengakibatkan dia agak tersiksa. Setiap saat dia berkeliling kelas, melihat-lihat tugas teman-temannya dan terkesan mengganggu ketertiban.  Banyak teman-temannya yang menganggap anak saya "berbeda dan aneh" sehingga terjadi "bulliying" terhadapnya. Saat dit