Langsung ke konten utama

Malu akibat dialek berbicara - masa galau di SMA

foto reuni 30th TOP87 - by ; Liem Khong Shiung
Rata-rata teman saya memiliki banyak kenangan saat sekolah di SMA. Buat saya pribadi, tidak. Mengapa ? Karena saya pindah sekolah saat SMA ke sebuah sekolah yang sangat terkenal di jamannya sampai sekarang dan itu letaknya ratusan kilometer dari kampung saya. Trus kenapa, masalahnya apa ? Begini ceritanya....
--------------------------------
Masuk SMA swasta favorit di Bandung... Siapa yang tidak bangga. Saya cuma anak desa, yang lahir dan tinggal di kota kecil di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Untuk masuk ke sekolah favorit itu, selain nilai NEM yang mencukupi, tetap harus melalui test juga dan harus mendapat nilai di atas passing grade nya untuk mengalahkan banyak saingan. Yang mendaftar bejibun banget dari sekolah-sekolah se-antero Bandung dan kota-kota lainnya.  

Senangkah setelah memulai masuk sekolah ?

Ternyata TIDAK. Hahahahaa... Kenapa ?
  • Alasan pertama, logat bicara saya berbeda dengan daerah Tatar Sunda menyebabkan saya malas berbicara. Setiap saya berbicara, semua teman tertawa. Medokkkkkk bingitssss, jawa pisannnnn... Pokoknya memalukannnnnn... 
  • Alasan kedua, bahasa pergaulan disini adalah bahasa Sunda, which is saya sama sekali tidak mengerti satu patah katapun. Alhasil saya makin irit bicara dan sering merasa sedang dipergunjingkan. Hahahaha tipikal abg galau pisannnnn......
  • Alasan ketiga, ternyata pelajaran disini susahhhh bangettttt buat saya.. Jelas standardnya berbeda dengan kota kelahiran saya di kampung dulu. Jadi pada saat duduk di kelas satu, pelajaran membuat saya nyaris frustasi menjalaninya.

Kenapa tetap bertahan di sekolah ini ?

Jelas karena gak mungkin kembali kekampunglahhhhh...  Hahahaha... Mau ditaro dimana muka saya kalau harus pulkam. Selain itu, pastinya karena ayah saya sudah membayar uang pangkal yang dirasa cukup besar (padahal itu adalah biaya minimal yang di wajibkan oleh sekolah tanpa sumbangan sukarela tambahan) untuk keluarga kami yang biasa saja. Biaya untuk kamar kost saya setiap bulan juga sudah berjalan.

Jadi ya sutralah yaaaa... saya berusaha keras melakoni hidup sendiri di kota orang dengan segala keterbatasan saya. Puji Tuhan, memasuki kelas 2 SMA, saya sudah bisa mengikuti pelajarannya. Beranjak dari ranking 39 dari 46 siswa di kelas satu, menjadi ranking yang bisa di banggakanlah sebagai anak kampung, di kelas dua dan tiga (maksudnya gak termasuk setengah ke bawah, hahaha...).  Akhirnya saya jalani sampai tamat di SMA St. Aloysius, Bandung. 

Apa yang saya dapat setelah melewati masa SMA ?

Yang pasti saya bisa berbahasa Sunda sedikit dan logat saya sudah tidak lagi njawani. Hahahaha.... Tapi 3 tahun itu mengajarkan saya banyak hal, sebagai bekal saat saya harus mengatur waktu kuliah di dua universitas saat saya kuliah dan terutama bagaimana bersikap saat menghadapi orang-orang yang berbeda dari berbagai sisi kehidupan (pengalaman sbg "alien" di kelas 1 hahaha...). Hidup saya menjadi berwarna dan kaya dengan banyak perbedaan yang dapat saya terima dengan lapang dada dan hati bahagia.


Komentar

  1. Pasti ngerasa kurang nyaman ya Mba berada ditempat yang kita merasa asing. Tp lambat laun pasti dapat teratasi selama kita tetap bertahan dan beradaptasi.dg kondisi yang ada. Aku juga kuliah di Bandung, jauh dari orang tua dan keluarga. Sedikit banyak merasakanlah gimana rasanya jadi anak kosan wkwkwk

    BalasHapus

Posting Komentar